Nasi Megono, Dari Sesaji Hingga Jadi Kuliner Khas Pekalongan

nasi megono dari pekalongan

Nasi megono sebagai salah satu kuliner khas Kota Pekalongan menunjukkan akar sejarah dalam panganan khas yang ada di Indonesia. Jika kamu pelajari, hampir semua makanan khas yang ada di Indonesia memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Nah biasanya, hal-hal yang memiliki sejarah kuat seperti ini sangat menarik perhatian para turis asing, agar kamu bisa menjelaskannya dengan baik, yuk mulai belajar bahasa inggris dari sekarang.

Selain bagi turis asing, hal semacam ini juga cukup menarik untuk dikaji oleh orang asli Indonesia. Sebab dari sinilah kamu juga bisa sekaligus belajar kebudayaan nenek moyang yang sangat beragam serta kental sekali dengan nilai filosofis di dalamnya.

Bahkan sebenarnya nasi megono ini awalnya merupakan sebuah sesajen yang sangat kental dengan agama Hindu. Wajar saja demikian, sebab sebelum Islam datang ke Jawa, rata-rata penduduk Jawa memeluk agama Hindu.

Jadi pada waktu itu, nasi megono ini masih berbentuk sebuah sesajen yang diberikan untuk memperingati hari tertentu yang disakralkan dalam ajaran Hindu. Selain itu, sesajen ini juga diberikan dengan tujuan untuk meminta keberkahan kepada dewi padi atau yang lebih dikenal dengan Dewi Sri.

Untuk mengetahui Apa Itu Nasi Megono dan melihat lebih jelas seperti apa transformasi makanan nasi megono sampai menjadi salah satu olahan khas kota Pekalongan, kamu bisa melihat sejarah lengkapnya yang akan diulas di bawah ini.

Sejarah Nasi Megono Khas Kota Pekalongan

nasi khas pekalongan
Image Source: travelingyuk[dot]com
Sejarah dari nasi megono ini sebenarnya berawal dari budaya Keraton Yogyakarta tepatnya pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Adat pada zaman itu masih sering sekali mengadakan sesaji untuk upacara bekakak.

Sesaji bekakak umumnya dibagi menjadi tiga kelompok. 2 kelompok untuk dua jail yang diletakkan bersamaan dengan pengantin bekakak. Sedangkan 1 sesaji ditaruh di dalam sebuah jodhang sebagai pelengkap dari upacara.

Itulah sebenarnya awal mula dari megono dengan bentuk yang masih berupa nasi tumpeng, pinggirnya diberi dengan gudangan atau urap cecak atau gori (nagka yang masih muda).

Cara khas dari masyarakat Pekolangan waktu itu adalah gudangan atau urap cecak atau gori (nagka yang masih muda) yang dipotong kecil-kecil kemudian ditambahi dengan bumbu berupa parutan kelapa dan rempah yang didhang atau dikukus terlebih dahulu. Tapi dulu tidak dicampur seperti sekarang ini.

Dulunya, sesaji seperti itu kemudian di bawa ke daerah-daerah bawahan dari Kerajaan Mataram Kuni, termasuk diantaranya adalah Pekalongan. Dan bagaimana kaitannya nasi megono dengan Dewi Sri?

Di daerah pantura, termasuk Pekalongan, dulunya sesaji seperti ini digunakan pada saat ada ritual sedekah untuk Dewi Sri sang penguasa padi. Tujuannya adalah agar supaya hasil panen melimpah dan juga makmur.

Jadi pada zaman itu umumnya tumpeng megono digunakan untuk sesajian yang diberikan kepada Dewi Sri. Barulah setelah masuknya islam megono mengalami perubahan. Sebab umumnya megono ini dijadikan sebagai suguhan pada saat acara tahlil dan tahmid di masjid-masjid.

Nasi megono ini tidak lagi dijadikan sebagai sesaji, tapi umumnya dibagikan untuk makanan bersama-sama. Meskipun isinya sebenarnya masih tetap sama. Uniknya lagi nasi megoni saat ini tudak lagi dubuat untuk tumpeng di acara-acara keagamaan, namun sudah menjadi bagian dari indusrri makanan yang ada di kota Pekalongan.

Tempat Jual Nasi Megono Khas Pekalongan

makanan khas pekalongan
Image Source: tripadvisor[dot]com
Untuk kamu yang penasaran dengan rasa nasi megono, saat ada kesempatan berkunjung ke Pekalongan coba saja untuk mencicipinya. Apalagi di Pekolangan sendiri kamu bisa dengan mudah menemukan nasi megono yang dijajakan oleh para penjual di sudut-sudut kota Pekalongan.

Namun dari segi bentuk, tidak lagi sama seperti nasi megono pada awalnya yang berbentuk tumpeng. Saat ini rata-rata nasi megono yang dijual berupa bungkusan kecil dari daun pisang atau daun jati.

Saat berada di Kota Pekalongan, datang saja ke Jalan Urip Soemoharjo, Pekalongan Barat. Di sana banyak sekali para penjual yang menjajakan nasi megono yang khas ini. Dan jangan kaget jika nasi megono yang kamu temukan tidak sesuai dengan yang kamu bagaikan.

Memang dari segi bentuk, penyajian, dan rasa masih sama. Tapi umumnya para penjual nasi megono saat ini sering memberikan inovasi pada nasi megono yang dijualnya. Meskipun demikian, inovasi ini menambah rasa nikmat yang ada pada nasi megono ini.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, nasi megono ini tidak hanya ada di kota Pekalongan saja, umumnya kamu juga bisa dengan mudah menemukan nasi megono ini di kota-kota sekitar Pekalongan, misalnya saja Kota Batang.

Jadi jangan kaget jika suatu waktu kamu berkunjung ke Batang dan ternyata menemukan nasi megono di kota tersebut. Uniknya lagi, secara penyajian dan rasa hampir sama dengan nasi megono khas Pekalongan.

Itulah sedikit ulasan mengenai nasi megono yang pada awalnya merupakan sesajen untuk Dewi Sri tapi pada akhirnya menjadi salah satu menu makanan khas Pekalongan dengan rasa khas yang tidak tertandingi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *