Makna Mendalam Dari Roti Buaya Pada Acara Pernikahan Betawi

Roti Buaya menjadi salah satu bawaan wajib, dibawa oleh calon mertua laki-laki di acara pernikahan. Tahukah Anda kenapa masyarakat betawi mewajibkan untuk membawa roti jenis ini?

Betawi merupakan sebutan penduduk yang pertama kali mendiami Jakarta. Penduduknya termasuk orang yang mendiami tempat di sekitar sungai yang banyaknya hampir puluhan.

"Alfatih dan Ashkar seneng banget bisa nikmati Belajar Inggris yang Fun di EF" ~ Iva. "Setiap Sabtu menjelang siang, Kyna selalu menunggu kelasnya mulai" ~ Acha. Buruan dapetin ▶ 💰 DISKONBelajar Inggris di EF English First. Belajar semakin menyenangkan! 🇬🇧 🇮🇩 🇸🇪

Masyarakat betawi memiliki keunikan budaya tersendiri. Terlepas dari pemanfaatan musik-musik, penggunaan roti berbentuk buaya juga digunakan. Terutama ketika digunakan sebagai serah-serahan penganting laki-laki pada pengatin wanita.

Ketika pengantin laki-laki tidak membawa roti tersebut, biasanya orang tua calon pengantin wanita akan menolaknya dengan keras.

Dengan kata lain, roti berbentuk hewan buaya ini memang begitu penting seperti belajar bahasa Inggris. Lalu, apa makna yang terkandung di dalamnya?

Sebelum menelisik lebih lanjut mengenai penggunaan Roti Buaya ini dalam upacaya pernikahan, ada baiknya jika Anda memahami dulu sejarah dari roti tersebut.

Sejarah Roti Buaya Di Adat Betawi

pesanrotibuaya.com

Penduduk betawi merupakan penduduk asli Jakarta. Mereka dulunya menggantungkan hidupnya di sekitar sungai.

Ikuti Video Wisata Jakarta bersama Iona dan Ebba (Sweden) : EF.ID/wisatajakarta


Sungai ini menjadi kediaman dari beberapa hewan, salah satunya adalah buaya air tawar. Buaya ini menjadi salah satu hewan yang memiliki keunikan tersendiri.

Sampai sekarang, masih ada yang memberikan sesajen khusus untuk buaya. Hewan ini hampir mirip sebagai hewan suci, bersanding dengan sapi yang biasanya dianggap hewan suci di India.

Dilihat dari prilaku hewan ini, buaya memiliki sifat yang setia pada pasangannya. Hewan ini tidak akan pindah ke lain hati meskipun hidup puluhan tahun lamanya.

Dianggap sebagai hewan suci, lantas muncullah sebuah makanan khas yang berbentuk roti. Cuma roti buaya ini tidak dimakan dalam acara pernikahan di adat betawi.

Alasannya tentu saja, roti ini memiliki makna mendalam. Tak mengherankan jika Anda hanya akan melihat keberadaan roti ini, bahkan sampai disimpan dalam waktu lama di lemari pengantin perempuan.

Makna Yang Terkandung Dalam Roti Buaya

liputan6.com

Di acara pernikahan penduduk betawi, seserahan yang wajib dibawa adalah Roti Buaya. Jika pihak pengantin lelaki tidak membawanya, hampir pasti jika seserahan ditolak mentah-mentah.

Pelengkap seserahan selain roti tersebut adalah perhiasan, uang, dan perlengkapan-perlengkapan penunjang dalam pernikahan.

Ukuran roti buaya ini biasanya sekitar 50 cm. Biasanya dibuat dua buah dengan ukuran yang berbeda.

Satu roti diasumsikan sebagai buaya jantan, dan satunya lagi diasumsikan sebagai buaya betina. Biasanya roti yang ukurannya kecil akan diletakkan di atas punggung roti yang berukuran besar.

Keberadaan roti ini dalam budaya betawi tentu memiliki makna yang dalam. Diantaranya adalah sebagai berikut ini.

– Sebagai simbol kesetiaan

Roti buaya ini menjadi simbol kesetiaan dalam berumah tangga. Ini dilihat dari prilaku buaya yang setia dengan pasangannya.

Buaya jantan akan tetap berada di sisi buaya betina sampai usianya lanjut. Kesetiaan inilah yang dimaksudkan dalam pemanfaatan roti khas betawi tersebut.

Adanya roti ini seakan menjadi contoh sekaligus doa agar pasangan yang menikah di hari tersebut diberi keberkahan, kemudian diberikan kerukunan sehingga bisa setia sampai ajal menjemput.

– Sebagai simbol panjang umur

Normalnya buaya memiliki masa hidup yang sangat lama bila dibandingkan dengan hewan lainnya. Bahkan beratnya juga akan bertambah, diikuti dengan besarnya tubuh buaya tersebut.

Pemanfaatan roti berbentuk buaya ini juga dimaksudkan agar pasangan yang menikah dikaruniai panjang umur. Tentunya bisa melihat anak cucunya kelak.

– Sebagai simbol kekuatan dalam mempertahankan rumah tangga

wordpress.com

Buaya sendiri memang termasuk hewan yang sangat tangguh. Bahkan bisa hidup di dua alam, yaitu di air dan di darat.

Pemaknaan inilah yang juga tersirat dari dalam Roti Buaya yang diberikan oleh calon besan di acara pernikahan.

Rumah tangga yang nantinya dibangun diharapkan bisa kuat, tidak goyah walaupun ada guncangan-guncangan kecil yang lumrah dalam keluarga.

– Sebagai lambang kemapanan

Sekilas nilai kemapanan disematkan dalam sebuah roti. Roti dianggap sebagai makanan golongan atas.

Hal ini memang sangat lumrah jika dilihat dari masa lampau. Roti menjadi makanan khas yang tidak banyak orang bisa menikmatinya.

Dalam adat betawi ini, roti ini sebagai lambang kemapanan untuk pengantin. Tentunya pengantin ini bisa lebih mapan dalam bekerja, bisa memberikan nafkah pada pasangan wanitanya.

Pemaknaan ini memang sangat kental sekali di masa lampau. Dan Roti Buaya ini nantinya akan disimpan oleh pjhak pengantin wanita di dalam lemarinya.

Supaya roti ini bisa bertahan lebih lama, tentu roti tersebut dibuat sekeras mungkin. Tujuannya agar tidak terurai, apalagi dimakan oleh hewan lainnya.

Namun sekarang, adat ini seakan sudah mulai ditinggalkan. Roti biasanya bertekstur lembut, kemudian dibagikan pada sanak dengan harapan agar yang mendapatkannya bisa segera menemukan jodohnya.

Jika dilihat dari kebudayaan masa lampau, tentu saja Roti Buaya ini khusus dijadikan sebagai seserahan dalam acara pernikahan, dan hanya untuk disimpan bukan dikonsumsi oleh siapapun. Tujuannya adalah makna yang ada di dalamnya tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *